Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden Prabowo merupakan strategi nasional dalam meningkatkan kualitas gizi generasi muda Indonesia. Fokus utama program ini adalah penyediaan nutrisi, dimana telur ayam menjadi salah satu komoditas kunci penyedia protein hewani yang berkelanjutan sehingga kualitas telur harus selalu terjamin konsistensinya. Di sinilah pemberian pakan menjadi titik sentral, karena nutrisi yang dikonsumsi ayam secara langsung memengaruhi kandungan gizi dan produktivitas telur. Oleh karena itu, pemberian pakan yang tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat kualitas menjadi prinsip dasar dalam manajemen ayam petelur.

Sistem pemberian pakan yang digunakan saat ini masih menggunakan cara tradisional, yaitu  pakan diberikan secara manual oleh peternak dengan frekuensi tertentu. Sistem ini memiliki masalah utama dalam pemberian pakan, yaitu konsistensi dan efisiensi distribusi. Selain itu ketika permintaan telur meningkat pesat, contohnya akibat program MBG. Peternakan yang masih bergantung pada tenaga kerja manual dengan sumber daya terbatas. Kondisi ini menimbulkan masalah dalam memastikan ketersediaan telur tetap terjaga di tengah lonjakan kebutuhan nasional.

Seiring perkembangan teknologi, konsep Internet of Things (IoT) mulai diterapkan dalam bidang peternakan. IoT adalah teknologi yang menghubungkan perangkat fisik ke internet sehingga bisa dipantau dan dikendalikan dari jarak jauh. Salah satu inovasi dari teknologi ini adalah mesin pemberi pakan otomatis berbasis IoT, yang dirancang untuk mengintegrasikan sensor, aktuator, dan sistem kendali digital dalam satu kesatuan. Teknologi ini memungkinkan proses pemberian pakan dilakukan secara presisi, terjadwal, dan dapat dipantau dan dikontrol dari jarak jauh melalui smartphone atau laptop.

Prinsip kerja mesin ini sederhana namun efektif. Sensor mendeteksi jumlah pakan dalam wadah, motor servo sebagai penggerakan katup pakan, konveyor menyalurkan pakan dan mikrokontroler yang terhubung ke internet mengatur seluruh proses. Peternak dapat mengakses aplikasi monitoring untuk mengatur jadwal pemberian pakan, memantau konsumsi harian, dan menerima notifikasi jika terjadi anomali sehingga bisa segera ditangani. Dengan konfigurasi ini, peternak dapat menganalisis pola produksi serta menyesuaikan strategi pemeliharaan

Penggunaan teknologi ini dapat membuat pemberian pakan menjadi lebih konsisten dan efisien, sehingga ditribusi terjamin dan kualitas nutrisi pada telur dapat dijaga. Selain itu, dengan inovai ini peternak dengan sumber daya terbatas tidak akan terpengaruh oleh lonjakan permintaan karena produksi dapat tetap berjalan oleh sistem yang lebih cepat, lebih tepat , lebih merata dan terukur. Bayangkan seorang peternak di Sleman yang harus mengurus ribuan ekor ayam. Dengan adanya inovasi mesin ini, ia cukup membuka aplikasi, menekan tombol, dan seluruh ayam mendapat pakan sesuai jadwal secara otomatis.

Integrasi IoT dalam sistem pemberian pakan hanyalah langkah awal menuju smart farming. Potensi kedepannya, teknologi ini dapat dikombinasikan dengan sensor suhu, kelembapan, dan deteksi kesehatan ayam berbasis machine learning, hingga dengan sistem Artificial Intelligence. Dengan demikian, seluruh aspek pemeliharaan dapat dikendalikan secara otomatis dan berbasis data. Jika teknologi ini diterapkan secara luas, dapat meningkatkan produktivitas dan mendukung ketahanan pangan nasional dan peternakan tradisional dapat bertransformasi menjadi smart farming yang lebih efisien dan modern.


Roni

Mahasiswa Prodi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Janabadra Yogyakarta

https://www.linkedin.com/in/roni-6a3b55295

Dosen Pembimbing: Dr. Eng. Mochamad Syamsiro, S.T., M.Eng.

Share this: