Dr Mochamad Syamsiro
Direktur Center for Waste Management & Bioenergy dan Dosen Jurusan Teknik Mesin Universitas Janabadra, Yogyakarta

WABAH covid-19 telah memaksa masyarakat untuk melakukan aktivitas di rumah, baik itu bekerja dari rumah maupun belajar di rumah. Sudah sebulan lebih masyarakat dianjurkan untuk tetap di rumah. Yang kemudian cukup menarik dari adanya wabah ini adalah terkait persoalan dan penanganan sampah.

Telah terjadi pergeseran distribusi timbulan sampah akibat wabah ini. Terjadinya penurunan yang sangat drastis sampah yang dihasilkan gedung-gedung perkantoran, pabrik, sekolah, pusat perbelanjaan dan pasar. Akan tetapi hal yang sebaliknya terjadi dimana timbulan sampah rumah tangga meningkat drastis. Apalagi, pola kebiasaan masyarakat juga berubah.

Di sisi lain, banyaknya mahasiswa memilih pulang kampung karena semua kampus menerapkan pembelajaran daring dan juga hampir tidak adanya wisatawan yang datang ke kota, membawa dampak positif pada timbulan sampah yang berkurang drastis. Hal ini tentunya mengurangi timbulan sampah secara keseluruhan di wilayah Yogya dan sekitarnya. Artinya beban tempat pembuangan akhir (TPA) Piyungan  sedikit terkurangi.

Dua Hal

Berkurangnya timbulan sampah lantas tidak bisa kemudian membuat kita berdiam diri selama masa pandemi. Bekerja dapat dilakukan dari rumah, belajar dapat dilaksanakan di rumah secara daring, tetapi sampah tetap harus diangkut ke TPA setiap hari.

Ada dua hal yang menjadi perhatian dan persoalan kita bersama selama masa pandemi ini. Yang pertama adalah keselamatan orang-orang yang terlibat dalam penanganan sampah, baik itu petugas pengangkut sampah maupun pemulung yang selalu hadir memungut sampah. Mereka perlu mendapat perhatian khusus terkait potensi tertular wabah covid-19.

Pengambilan sampah dari rumah ke rumah sangat berpontensi untuk terpapar virus atau penyakit apapun. Oleh karena itu, perlu ada perhatian dari pemerintah dalam bentuk alat pelindung diri yang memadai bagi orang-orang tersebut. Agar mereka terhindar dari paparan virus.

Kedua, tata kelola sampah kita selama ini masih belum baik. Inilah momentum yang tepat bagi pemerintah untuk memperbaiki tata kelola sampah kita seiring dengan anjuran kepada masyarakat untuk menjalani pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Penanganan sampah harus dilakukan secara baik. Sehingga petugas sampah tidak harus berjibaku dengan sampah dan jauh dari kata PHBS. Pengangkutan sampah ke TPA juga sebaiknya menggunakan truk khusus sampah yang tertutup.

Di sisi lain, masih banyaknya penanganan sampah yang masih dikelola oleh masyarakat secara swadaya, dari mulai pengambilan dari rumah ke rumah sampai dengan pembuangan ke TPA. Pandemi ini bisa dijadikan momen tepat untuk Pemda melakukan koordinasi penanganan sampah dengan mereka.

Kontribusi Masyarakat

Lantas bagaimana kontribusi masyarakat dalam permasalahan penanganan sampah ini? Dengan lebih banyak tinggal di rumah inilah kesempatan untuk mengelola sampah di rumah masing-masing secara lebih baik. Mulailah dengan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) yang selalu didengungkan.

Hal ini dapat dilakukan mulai dari mengurangi, memakai ulang dan mendaur ulang sampah yang dihasilkan. Kemudian sampah yang tetap harus dibuang mulailah untuk dipilah-pilah sesuai dengan jenisnya. Beberapa wilayah yang sudah mempunyai bank sampah dapat mengoptimalkan peranan mereka untuk lebih mendorong pemilahan sampah di rumah. Sehingga meminimalkan sampah dibuang ke TPA.

Jadikanlah masa pandemi ini kesempatan bagi masyarakat untuk berkontribusi terhadap lingkungan dengan tetap di rumah saja sambil mengelola sampahnya. Harapannya setelah wabah berakhir, ini akan menjadi kebiasaan baik yang akan terus berlanjut sampai kapan pun. (Artikel ini dimuat di kolom Opini KR, 28 April 2020)