Teknologi 3D printing menjadi salah satu teknologi kunci di era Revolusi Industri 4.0, disamping internet of things, advance robotik, artificial intelligence dan human machine interface. Dengan teknologi 3D Printing ini, berbagai produk bisa dibuat secara presisi untuk jumlah satuan atau massal, menggunakan kontrol komputer.
“Teknologi 3D printing mulai menggantikan teknologi manufaktur, karena kelebihan yang dimiliki 3D printing seperti sifatnya yang bisa customized,” terang Dosen di Departemen Teknik Mesin dan Teknik Industri FT UGM yang menggeluti penelitian 3D Printing, Dr Eng Herianto ST MEng IPM saat menjadi pembicara dalam webinar bertajuk ‘Peran 3D Printing di Era Pandemi Covid-19 dan New Normal’, Kamis (11/6/2020).

Webinar diselenggarakan oleh Jurusan Teknik Mesin Universitas Janabadra (UJB) dipandu moderator Dosen di Jurusan Teknik Mesin UJB, Dr Eng Muchamad Syamsiro. Webinar diikuti lebih dari 100 peserta terdiri dari dosen, mahasiswa dan masyarakat umum dari seluruh Indonesia.

Menurut Herianto yang menyelesaikan doktornya dari Tokyo Institute of Technology Jepang, teknologi 3D printing cukup berperan dalam upaya penanganan pandemi Covid-19 dengan menghasilkan produk-produk seperti penutup wajah (face shield), pengencang masker, pemegang pintu tanpa sentuh, dan beberapa produk lainnya. “Produk tersebut telah diedarkan ke seluruh Indonesia melalui komunitas yang telah dibentuk sebelumnya,” katanya. Herianto juga mengembangkan beberapa start-up dan menginisiasi rumah sebagai laboratorium (Home as Lab).

Ketua Jurusan Teknik Mesin UJB, Joko Winarno ST MEng mengatakan, webinar ini merupakan bentuk kontribusi Teknik Mesin UJB dalam penanganan pandemi Covid-19. Kegiatan webinar ini akan menjadi bagian aktivitas rutin bulanan dengan mengangkat tema-tema yang sangat menarik dan dibutuhkan saat ini. Teknik Mesin UJB sudah memulai menjalin kerja sama dengan UGM dalam pengembangan teknologi 3D printing. (Dev)